Banner
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits : 124216
Pengunjung : 34452
Hari ini : 35
Hits hari ini : 66
Member Online : 0
IP : 52.91.176.251
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

globalmandiriSMK    
Agenda
17 February 2019
M
S
S
R
K
J
S
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Cerita Lama dari Para Kuli Tionghoa

Tanggal : 30-12-2016 09:58, dibaca 275 kali.

Cerita Lama dari Para Kuli Tionghoa

Alasan mengapa kita harus menjadi pribumi yang lebih bersemangat untuk mengembangkan NKRI kita ini.

Kuli-kuli asal Tiongkok yang datang setelah munculnya proyek-proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia, adalah sebuah pengulangan sejarah. Pada masa lalu, para kuli Tionghoa didatangkan oleh penguasa lokal, pengusaha, hingga VOC dan pemerintah Hindia Belanda.
“Mereka bangsa yang ulet, rajin dan suka bekerja... Tak ada tenaga yang lebih cocok untuk tujuan kita atau yang dapat dikerahkan dengan sama mudahnya selain daripada orang Tionghoa,” kata Gubernur Jenderal VOC paling sohor Jan Pieterzoon Coen, seperti dikutip Willard Hanna dalam Hikayat Jakarta (1998) dan Benny Setiono dalam Tionghoa Dalam Pusaran Politik (2008). 

Orang-orang pribumi, di mata JP Coen, adalah orang-orang pemalas, susah diatur dan tak dapat dipercaya. Itulah kenapa sejak zaman kolonial, banyak orang Tionghoa dimasukkan VOC maupun pemerintah Hindia Belanda ke Nusantara. Sebelum masuknya VOC, orang-orang Tionghoa sudah masuk ke Nusantara untuk berdagang. Mereka dikenal sebagai bangsa pedagang di Indonesia. Namun, banyak di antara mereka datang ke Indonesia sebagai kuli. 

Menurut Benny Setiono, antara tahun 1760-1770 orang-orang Tionghoa dalam jumlah besar mulai masuk Kalimantan Barat. Mereka dipekerjakan oleh Sultan Sambas sebagai kuli-kuli pertambangan emas. Belakangan ada juga orang-orang Tionghoa yang jadi petani. Dengan pengetahuan yang dimiliki, mereka bisa membuka lahan pertanian luas yang ditanami lada dan sayur-mayur.

Salah satu imigran Tionghoa yang terkenal adalah Lan Fong Phak dari suku Hakka. Dia datang ke Kalimantan Barat pada 1772. Lan Fong Phak datang bersama 100 orang yang masih satu keluarga besar. Dia mendirikan kongsi Lan Fong. Kongsi ini semula bergerak di bidang pertanian. 

Kongsi-kongsi Tionghoa adalah komunitas demokratis, dimana mereka memilih sendiri pemimpin komunitas mereka. Beberapa kongsi kemudian bersatu dalam sebuah kongsi yang dipimpin Lan Fong Phak. Kongsi itu dikenal sebagai Republik Lanfang. Mereka punya pemerintahan, pengadilan, penjara dan pasukan bersenjata. 

Mereka dizalimi Sultan Sambas, dan memberontak kepada penguasa lokal. Selama berpuluh-puluh tahun, Republik Lan Fong mampu menghadapi Sultan Sambas dan Belanda. Republik itu baru bubar 1854. Ketika Belanda semakin kuat. Sejarah pemberontakan Lan Fong, juga Geger Pecinan di Jawa, tak membuat orang-orang Belanda yang berkuasa di Batavia trauma dengan orang-orang Tionghoa.

Mereka dipertahankan, bahkan didatangkan lagi untuk menggerakkan perekonomian di Hindia Belanda. Gubernur Jenderal VOC JP Coen juga pernah berucap, “Siapapun yang berniat membangun dan memperluas pengaruh Belanda, harus bekerja sama dengan orang-orang Tionghoa.”

Selain di Kalimantan Barat, di Bangka-Belitung, orang-orang Tionghoa didatangkan juga oleh Sultan Palembang untuk menambang timah di sana. Menurut Benny Setiono, “pemukiman orang Tionghoa secara besar-besaran diperkirakan mulai muncul pada dekade kedua dan ketiga abad ke-19. Pada tahun 1917, terdapat 70 ribu orang Tionghoa di antara 154 ribu penduduk Bangka. Seperti Kalimantan Barat dan daerah lain di Indonesia, orang-orang Tionghoa yang datang itu kemudian beranak-pinak. “

Meski sudah ada beberapa pemukiman Tionghoa seperti di Palembang pada abad ke-8, menurut Benny Setiono, “imigrasi orang Tionghoa ke Sumatera secara besar-besaran terjadi relatif terjadi lebih belakangan dibanding dengan Jawa dan Kalimantan.”



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas